Selasa, 07 Mei 2013

Pertemuan pertama

       Semua berawal ketika aku berada di sekolah baru. Panggil saja namaku Indri. Aku pindah kesebuah sekolah menengah pertama swasta di Bekasi. Aku pindah kesekolah ini saat kelas 3 SMP dikarenakan mencari pendidikan yang sesuai dengan cita-cita. Yaa... walaupun masih belum jelas.

       Menjalani kehidupan sebagai anak baru memang tidak mudah. Untuk pendekatan ke teman-teman juga lumayan sulit, karena memang tidak semua dalam kelas tersebut menyenangiku. Mungkin karena memang aku tidak begitu banyak bicara di kelas tersebut. 

       Pada hari itu ketika aku pulang sekolah, temanku yang bernama Wahyu memanggilku dengan ejekan bercandanya itu. Wahyu adalah teman satu sekolah yang menyukai sahabatku yang bernama Fitri. ketika itu Wahyu tidak sendiri ia bersama temannya yang aku tidak mengenalnya tapi memang masih satu sekolah denganku. inilah awal aku bertemu dengannya.

       Pada keesokan harinya aku jadi sering melihatnya. Laki-laki itu memang sedikit tertutup tak banyak bicara. Badannya yang kurus dan super tinggi membuat aku menyebutnya "Si Tiang Listrik". Saat ini aku sudah tau siapa dia. Dia adalah Taufan siswa kelas 3.1. Ia satu kelas dengan Wahyu dan Fitri. Namun karena ia sering meledekku maka aku sering memanggilnya dengan "Cwo nggak punya hati". Terdengar sadis sih, tapi memang begitulah dia.

       Selang beberapa hari ketika aku di madrasah untuk mengaji, ternyata di balik pintu aku melihat Taufan. Melihat dia ada di madrasah aku kaget, dan bertanya-tanya teentang kedatangannya ke tempat ini. Ternyata dia santri baru di kelas 1 Diniyyah.

       Perjalanan yang begitu singkat hingga akhirnya Taufan dan aku menjadi akrab. Entah apa yang terjadi, berdarlah gosip yang menyatakan bahwa kami berdua berhubungan lebih (Pacaran). Banyak pula temannya yang menghampiriku dan menitipkan salam darinya. Namun, karena gosip tersebut, selama hampir 1 minggu ia tidak menegur atau menghampiriku. Sempat merasa kehilangan, tapi ya sudahlah.

       Seminggu kemudian dia mulai kembali seperti semula. Ketika jam istirahat kami mengobrol didepan kelas, namun tidak berdampingan. Ia di dalam kelas melongok keluar jendela, sedangkan aku di depan kelas. Makin hari kami makin dekat. Ketika pulang sekolahpun ia menungguku di depan gerbang untuk pulang bersama. 

       Semua terasa indah walau memang tak ada ikatan apapun diantara kita. Namun, itu tak berjalan lama. Kelulusan sekolah sudah mendekat, intensitas pertemuan kita juga berkurang. Untuk berbincang paling hanya bisa dilakukan melalui telephon atau pertemuan dirumahku seminggu sekali. Terlebih lagi ketika pemberitahuan kelulusan, sedih rasanya untuk tidak bersamanya lagi.

       Sempat kita berkeinginan untuk masuk ke sekolah menengah atas (SMA) yang sama. Namun pada akhirnya kami tidak bersama, karena Taufan tidak lulus masuk ujian masuk SMA tersebut, dan kami masuk SMA yang berlainan.

Kisah ini masih belum berakhir. Mau tau lanjutannya??? Makanya sering-sering main ke Blog ku yah ^_^