Kamis, 09 Mei 2013

Ada yang Tak Sama

       Menjalani kisah cinta kita ditahun pertama sangatlah membahagiakan. Seperti yang sering orang katakan "Orang yang sedang dilanda cinta, dunia seperti milik berdua." Semua yang kita lalui begitu indah. Komunikasi kami sangat lancar, walaupun hanya melalui hp. Dia pun sering main kerumahku. Senyumanku selalu menghiasi wajahku yang penuh keceriaan. Rona wajahku seketika memerah ketika aku mengingatnya. Hubungan kami ditahun pertama tak ada kendala, yang ada hanya kebahagiaan.
       Menginjak tahun kedua perjalanan cinta kami, aku mulai merasa ada yang tak sama. Kesibukan sekolahnya mengurangi waktu kami untuk telpon dan sms. Tapi, aku tidak begitu mempersoalkan masalah itu. Karena, aku begitu percaya dengannya. Hingga suatu ketika di dalam smsnya, Taufan menyebutkan satu nama wanita. Wanita yang aku pun tak mengenalnya. Namanya Ida, dia teman satu sekolah bahkan satu kelas dengan Taufan. Taufan mengatakan bahwa Ida memintanya untuk menjadi kakaknya. Karena, Ida ingin mempunyai kakak laki-laki. 
       Fikiranku tertuju pada diriku sendiri. Aku yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, pastinya memiliki banyak kakak kelas yang aku sendiri menganggap mereka seperti kakakku. Secara langsung aku menyatakan kesetujuanku.
       Namun pada perjalanannya, terasa ada yang aneh. hingga aku bertanya-tanya "Sebenarnya kekasihnya itu, Aku atau Ida??" Aku berfikir seperti itu karena ada perubahan sikap yang dilakukan Taufan. Biasanya kami sering smsan. Tapi sekarang tidak. Pernah suatu ketika Taufan menyatakan dirinya sedang tidak punya pulsa. Saat itu aku yang menelponnya. Selang seminggu, barulah Taufan sms. Di dalam smsnya ia mengatakan bahwa itu pulsanya yang terakhir. Serentak aku kaget membacanya. Padahal ia baru sms, tapi mengapa sekarang sudah bilang ini pulsa terakhirnya??? Dengan cepat aku membalas smsnya dan menanyakan dengan siapa dia berkomunikasi. Ketika itu hatiku tak mempercayainya, kenapa hal ini bisa terjadi? Tak lama kemudian Taufan membalas "Kemarin-kemarin aku smsan sama Ida. Maaf yah aku ga sms kamu"
       Seperti kilat yang menyambar jantungku. Kaget, sakit, kesal, dan bertanya-tanya begitulah perasaanku saat itu. Aku tambah tak percaya mengapa dia bisa memperlakukanku seperti ini. Apa salahku? Apa yang menyebabkanmu seperti ini? Begitu nyamankah engkau dengannya? Apa aku salah jika saat ini aku membenci Ida? Apa aku salah jika saat ini aku tidak mempercayaimu?
       Beberapa hari kemudian aku dan Taufan bertemu tanpa membicarakan kejadian tersebut. Entah apa yang ku rasa, ketika bertemunya semua kemarahanku hilang begitu saja. Aku begitu menyayanginya hingga tak memikirkan hatiku sendiri. Bodohkah aku? Aku rasa tidak, karena cintaku padanya. Tanpa membicarakan hal tersebut, semua itu aku anggap selesai. 
       Hari itu sepulang sekolah, aku menyempatkan diri untuk mampir ke rumah temanku yang bernama Okta. Dengan sekolah yang cukup jauh, Aku bersama dua orang temanku yaitu Novi dan Febri menempuhnya dengan berjalan kaki.
       Setibanya dirumah Okta, aku mendapatkan kabar yang mengejutkan dari ibunda Okta. Ibunda Okta berkata "Indri, tadi mama lihat Taufan nganterin cwe tuh. Nggak tau sih mau kemana. Cuma arahnya sih kesana. Pas mama tegor "Taufan mauu kemana?" dia tidak menjawab dan langsung melajukan motornya" sambil menunjuk kesatu arah. Mendengar perkataan ibunda Okta, aku langsung terdiam. Dalam keadaan seperti ini pun aku masih mencoba untuk berfikir positif terhadapnya. Tapi, memang tak dapat ku bohongi tentang perasaan ini.
      

Jangan lewatkan kisah selanjutnya yah. Apakah yang terjadi dengan hubungan mereka? Terimakasih ^_^