Minggu, 05 Mei 2013

Bahagianya mentaati orang tua

Hy Kawan...
Terkadang kita sebagai anak sering berfikir bahwa orang tua kita tidak pernah mengerti apa yang kita inginkan. Sama halnya dengan saya. Saya juga pernah berfikir bahwa orang tua saya tidak mengerti keinginan saya dan cita-cita yang saya impikan.

Berawal dari ketika saya masih balita. Saat saya Taman Kanak-Kanak saya sangat ingin bercita-cita menjadi seorang dokter. Orang tua saya, khususnya Papa. Mendidik saya dengan sangat keras. Terlebih saya adalah anak pertama, kata-kata yang sering Papa ucap adalah "Ka, kamu itu anak pertama. Harapan Papa. Kalau kamu rusak adik kamu akan lebih rusak. Makanya Papa mendidik kamu seperti ini agar kamu memiliki rasa tanggung jawab dalam menjalani hidup". 
Ketika saya masuk Sekolah Dasar (SD), orang tua saya selalu mentargetkan kepada saya agar bisa masuk peringkat 3 besar. Dengan target itu, cara Papa mengajarpun lebih keras. Suatu hari saya pernah mendapat pukulan dari beliau karena ketika belajar saya sambil bermain. Ketika itu mungkin sangat menyakitkan, tapi jika diingat sekarang itu menjadi suatu hal yang lucu untuk saya.
Stelah lulus SD saya memilih untuk melanjutkan belajar di Pesantren. Dua tahun saya tinggal dan belajar di Pesantren, 
Papa bertanya "Ka, sebenarnya cita-cita kamu itu jadi apa?"
Saya menjawab "Aku pengen jadi dokter, Pa"
Papa "Wah, berarti pengetahuan umum kamu harus lebih, Ka"
Saya "Kalau gitu aku pindah ke sekolah umum aja yah, Pa" 
Papa "Pindah sekolah itu bukan hal yang mudah, Ka. apalagi kamu masuk di tahun terakhir, trus biayanya juga tidak sedikit. Tapi, kalau kamu memang ingin pindah, boleh saja. Tapi ada syaratnya. Kamu harus mendapat peringkat yang baik di sekolah tersebut"

Setelah saya dipindahkan ke SMP umum, cukup pusing memang memikirkan janji yang sudah saya buat. Karena janji tersebut saya belajar dengan giat hingga saya mendapatkan peringkat pertama di sekolah tersebut.

Target selanjutnya adalah masuk ke SMAN yang diinginkan ortu. Dengan menjalani tes masuk SMAN tersebut, akhirnya saya lulus dan masuk ke SMAN tersebut. selanjutnya menjalani hari-hari saya sebagai anak SMA. melewati tahun pertama saya dihadapkan lagi pada penjurusan apakah IPA ataukah IPS. Karena saya ingin menjadi dokter maka saya mengharuskan diri saya untuk masuk ke jurusan IPA. Alhamdulillah saya masuk jurusan IPA. Pada perjalanan saya di kelas 2 SMA, ternyata orang tua saya mengalami penuurunan pemasukan pada CV yang dijalaninya. Akhirnya, hambatan melanjutkan ke sekolah kedokteranpun dimulai. Ketika kelas 3 SMA orang tua saya enyarankan agar saya menjadi seorang pengajar menurut beliau sebagai seorang wanita baiknya menjadi seorang pengajar karena "Kamukan wanita, nantinya akan menjadi seorang ibu. Nah, kalau kamu jadi guru kan enak, jam masuk dan jam keluarnya itu sama kaya anak kamu. liburnya juga samaan, jadi kamu bisa berkarir sambil mendidik anak. lagi pula ilmu yang bermanfaat akan mengalir terus pahalanya", ujar Papa. 

Melalui jalan yang rumit seperti ini memberikan saya banyak sekali pelajaran, bahwa menuruti atau mentaati orang tua itu tidak merugikan untuk kita. dengantarget-target yang diberikan orang tua saya. Akhirnya saya yang memiliki pengetahuan banyak dibidang umum, sekarang saya menjalani pendidikan sebagai mahasiswa pendidikan agama. Saya mampu bersaing dengan teman-teman saya yang memang pendidikan awalnya berbasis agama. Tanpa mengikuti orang tua saya, mungkin saya tidak akan menjadi seperti ini. Menginspirasi adik-adik saya dalam belajar, dan meninggikan cita-cita mereka. 

Saya semakin yakin terhadap hadis Rasulullah yang berbunyi "Ridha Allah terletak pada keridhaan orang tua, dan murka Allah terletak pada murka orang tua"

Ingat kawan mentaati atau menuruti orang tua itu tidaklah rugi, selama perinta itu menunjukkan kepada yang baik. Setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Kunci untuk menjalaninya adalah BERSABAR dan IKHLAS ^_^